Barang Sentimentil Yang Minimalis

セラマトパギ! 皆さん良い一日を! Adakah yang bisa membaca bahasa Jepang? Hehehe. Kali saya tidak ingin membahas tentang negeri sakura tersebut, melainkan saya ingin membahas mengenai hidup minimalis ala orang jepang. Buku ini ditulis oleh orang jepang bernama Fumio Sasaki, buku yang mengubah kehidupan saya dan membuat saya lebih minimalis dalam membuat sebuah produk untuk teman-teman dan arbredesign.co.

Pernah merasa jenuh terhadap kehidupan yang penuh sesak? Pernahkah dari kita merasakan frustasi terhadap pekerjaan? Pernahkah dari kita ingin melepaskan sejekan tanggung jawab (bersih-bersih) di rumah? Dan, pernahkah dari kita tidak bisa tergiur oleh diskon? Saya pikir, semua pasti pernah merasakan hal tersebut. Menjadi escape plan untuk keluar bersama teman, piknik, traveling namun tidak kunjung mendapatkan kepuasan batin yang serius. Saya merasakan ini saat dulu saya membangun Arbre, banyak hal yang saya rasakan dan ketidakbahagiaan saya dalam menjalankan aktivitas. Menghadapi problematika dengan tim, dengan customer, dengan supplier, dan dengan beberapa rekan bisnis yang tidak sesuai standard. Membuat kehidupan saya menjadi kacau dan saya menjadi pribadi yang mudah mengeluh.

Kesakitan tersebut menuntun saya untuk pergi ke toko buku atau berselancar di favorite e-commerce terbaik yaitu amazon.com untuk membeli beberapa buku yang saya suka. Even more, saya sangat suka dengan buku-buku mengenai pengembangan diri, hidup sehat, home living, dan kesehatan mental juga pikiran. Saya memutuskan membeli sebuah buku berjudul Hidup Minimalis ala Orang Jepang, saya merasakan bahwa buku ini mengajarkan saya setelah Konmari untuk menjalani hidup pada benda dan orang-orang yang membuat saya bahagia.

Saya banyak sekali mendonasikan atau memberikan hampir 90% jilbab yang sudah tidak saya pakai kepada teman-teman dan orang yang membutuhkan. Sekarang, saya hanya memiliki tujuh jilbab yang saya pakai, saya hanya memiliki basic dress yang tidak lebih dari sepuluh item. Saya hanya memiliki empat outer dengan warna hitam, putih dan army. Jenis baju saya pun hanya polos dan kotak-kotak, hal ini membuat saya menghemat waktu untuk datang ke kantor dan tidak mengikuti trend. Di buku tersebut bahkan dijelaskan bahwa seorang minimalis sejati ialah Steve Jobs. Ia dikatakan sebagai minimalis sejati karena ia hanya mengenakan pakaian yang sama setiap hari dan membuat produk yang bersih dari fitur-fitur yang tidak diperlukan.

The funny thing is, saya juga memiliki alat makan dan minum yang benar-benar saya simpan dan saya sukai. Yang pertama adalah sebuah cangkir dari Starbucks saat saya harus kehabisan Tumblr, saya justru mendapatkan banyak manfaat ketika saya menggunakan cangkir tersebut. Selain untuk minum, saya tidak memerlukan properti di meja untuk membuat meja saya terlihat lebih berwarna.

Kedua, saya menggunakan sebuah mug yang special untuk saya ketika sedang bekerja. Disini, bahwa benda yang kita beri “power” dapat membuat bahagia yang mengalir. Maksudnya? Dari buku tersebut, seorang psikolog Mihaly Csikzentmihalyi meneliti bahwa bahagia sebagai keadaan mengalir, yang dipicu oleh konsentrasi, dan ia sebut sebagai aliran. Ia juga menyebutkan bahwa tidak semua orang dapat menemukan “aliran” seperti maksud di sini. Sebagai contoh, ketika menonton sebuah TV, atau serial bisa membuat waktu berjalan dengan cepat dan berlalu, tetapi hal itu justru tidak dapat membuat kita berada dalam kondisi pikiran yang mengalir. Menurutnya, tingkat konsentrasi tersebut jarang bisa dicapai sampai kita berhasil mengurangi semua hal yang membuat pikiran kita terganggu oleh benda-benda yang tidak perlu.

Akhirnya, saya memilih benda-benda yang membuat kebahagiaan saya mengalir saat bekerja. Saya dan tim membuat desain yang mengangkat tema afirmasi, sebuah mantra untuk diri kita sendiri dan membuat keyakinan kita semakin mantap.

Ketiga, sebuah model gelas café yang saya beli di Informa dengan harga yang murah saat itu. Sebuah model gelas yang sederhana dengan volume yang besar, mengingat saya hanya menggunakan mug dan cangkir dalam volume yang lebih kecil. Saya biasa membuat matcha, kopi, dan late di rumah dengan bahan seadanya demi menciptakan suasana yang nyaman.

Dengan pelan-pelan merubah kehidupan saya menjadi lebih minimal, tentu membuat saya merubah banyak untuk apa yang ingin saya berikan kepada banyak orang terutama adalah orang-orang terdekat saya. Beberapa hari yang lalu, saya membeli sebuah hampers yang saya jual dan memberikannya kepada sahabat saya. Ia bahkan mengikuti arbre dan pernah membeli sebuah mug. Saya merasa bukan apa yang saya berikan kepadanya melainkan “siapa” yang membuat dia bahagia, seberapa rasa peduli saya terhadapnya lah yang membuat dia lebih merasa bahagia.

Nilai seseorang seharusnya diukur berdasarkan apa yang telah ia berikan,

bukan apa yang telah ia terima. – Albert Einstein

Kenapa saya memutuskan untuk membeli produk saya sendiri? Apakah untuk membuat keuntungan sendiri? Apakah karena ingin mempromosikan produk demi profit? Tidak. Saya sangat menghargai jerih payah saya dan tim. Dan, dalam buku Hidup Minimalis ala Orang Jepang juga disebutkan bahwa seorang minimalis memang tidak membeli banyak barang, jadi jelas waktu berbelanja akan berkurang. Justru, saya sangat ingin waktu saya tidak terbuang sia-sia hanya mencari sebuah kado, saya ingin praktis namun tetap estetis.

Buku ini sangat memandu saya untuk memilih kado dengan cara yang sederhana dan praktis. Mungkin ini juga dapat membantu kalian untuk membeli kado.

  1. Bentuk barang minimalis dan mudah dibersihkan
  2. Warnanya tidak terlalu mencolok
  3. Bisa digunakan untuk jangka panjang
  4. Strukturnya sederhana
  5. Ringan dan praktis
  6. Multifungsi

Selain itu saya sangat menyukai hal yang sederhana dan tidak “ikut-ikutan trend” dan apa yang saya sebut minimalis adalah sebuah kebahagiaan yang didasarkan pada benda yang sederhana. Saya berpikir bahwa mug dan totebag adalah dua benda yang sangat mudah dibersihkan, saya tidak perlu sabun cuci yang mahal, dan tidak perlu membersihkannya ke laundry, sehingga hal itu juga tentu memudahkan teman saya untuk merawatnya.

Warna yang saya pilih untuknya adalah dark brown, tidak terlalu tajam dan gelap. Sehingga, dia akan tetap mudah mengembangkan style apapun tanpa merasa kuno dengan warna totebag yang ia gunakan. Saya sangat menyukai warna yang bersih seperti warna putih, alih-alih kebanyakan orang membencinya, saya justru menggemari warna putih, furniture warna putih, atau pun pakaian yang berwarna putih, kemudian saya akan tanggap jika benda-benda disekeliling saya kotor dan tampak berdebu. Begitu juga dengan mug, saya memilih warna putih karena memang sangat sederhana, saya dapat menempatkannya di rak, meja kerja, atau dimana pun saya mau dan desainnya yang tetap stunning. Kenapa bukan sesuatu yang berupa pakaian?

Saya tidak memahami seseorang dalam memilih selera, jadi ya.. saya memilih sesuatu yang secara fungsionalitas mendukung dan dapat digunakan jangka panjang. Oh tentu saja, mug adalah hal yang paling praktis dan ringan dibandingkan hadiah lain yang saya pilih. Bahkan, saya merancang sebuah hampers yang mungkin tidak mahal dikarenakan fungsionalitasnya bisa digunakan kembali.

Hidup minimalis bukan? Gunakan yang masih bisa digunakan dengan baik, box yang teman saya dapatkan bisa ia lepas rangkaiannya dan melipat kembali kertas kado yang menempel tanpa merobek lapisan kardus.

“Kita bisa menggunakan uang untuk hal-hal yang benar-benar penting”

Ada satu halaman yang membuat saya menyadari bahwa, ketika saya memberi sebuah benda maka benda tersebut harus memiliki makna untuk pemiliknya yang baru.

“Jika ada hadiah di rumah yang membuat kita merasa bersalah karena tidak pernah digunakan, lebih baik akui saja, lalu buang. Bila si pemberi kesal karena kita membuang hadiahnya, artinya orang itu tidak mementingkan hubungan kita dengannya di masa sekarang. Artinya, mungkin saja kita sebetulnya perlu menjaga jarak dari orang itu. Saya sendiri sudah menetapkan tidak mau menjadi orang yang hanya bisa menunjukkan rasa sayang atau persahabatan melalui benda materi.” tulis Fumio Sasaki.

Apa hal yang saya rasakan setelah membaca buku ini?

  1. Saya menjadi lebih fokus dalam bekerja dan menganggap pekerjaan bukanlah beban
  2. Kehidupan saya menjadi lebih bebas, saya tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan kantor dan rumah
  3. Saya jauh merasa lebih sehat dan bahagia
  4. Tingkat emotional saya jauh lebih menurun, dibandingkan dengan ketika banyak barang disekitar
  5. Saya menjadi lebih menghargai barang-barang yang saya miliki saat ini tanpa khawatir tentang apa yang tidak saya miliki
  6. Pikiran saya menjadi lebih tertata dan tidak overthinking

Semoga sharing kali ini lebih bermanfaat untuk kita agar memilih dan memilah benda-benda yang membuat kita lebih merasa bahagia seutuhnya.

Have a nice weekend! 🙂

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.