I Just don’t quit

Semua orang pasti pernah memimpikan sebuah cita-cita tau karir yang diinginkan, bukan? Termasuk saya, dari kecil saya tidak pernah memiliki cita-cita yang tetap. Ketika ditanya Bapak, pasti jawabannya selalu berubah, kadang saya ingin jadi dokter, guru, tetapi jawaban itu bukanlah keinginan saya dan jawaban itu Hanya sekedar ingin menyenangkan perasaan beliau. Alih-alih beliau menuntun saya, atau mengarahkan saya, yang saya dapatkan adalah “kamu tidak konsisten” atau “mana omongan yang bisa dipegang?”. Sebelumnya, beliau memang keras,  latar belakang dididik militer karena bapak dulunya seorang TNI AD. Saat itu saya menanamkan dipikiran bahwa, bapak itu kejam. Tidak seperti orang tua lainnya, beliau ini sangat keras terhadap anak-anaknya.

Kemudian, ketika saya berada di SMK. Saya bertemu dengan seorang guru multimedia dan sekaligus menjadi mentor saya, sejak saat itu beliau membimbing saya dan mengarahkan saya hingga seperti ini. Sejak 2012 saya sudah dikenalkan passion kemudian mulailah tertarik dengan self improvement. Bagi saya, istilah YOLO itu bertentangan dengan makna yang ada dilingkungan, teman-teman saya beranggapan bahwa YOLO itu: 

“Sebelum menikah, main yang jauh daripada nanti dilarang suami dan ngurusin anak”

“Sebelum kerja dan tidak ada waktu, puas-puasin dulu nongkrongnya”

Justru, saya berpikir bahwa, kalau memang hidup hanya sekali, dan saya bisa meninggal beberapa detik kemudian, apa hal yang bisa saya beri kepada orang tua, orang lain, teman, dan pasangan saya nantinya? Kita tidak perlu menjadi selebgram, yang kita harus lakukan adalah memberikan pengaruh yang baik terhadap setiap orang dengan cara kita masing-masing, dan terhadap diri kita sendiri.

Nah, kebetulan, mentor saya ini memiliki perusahaan dibidang mobile app. Pada tahun 2015 (saat ingin lulus SMK) saya diajak untuk bekerja di perusahaan beliau sebagai SEO. Saya tidak memiliki latar belakang dalam bidang bisnis, saya tidak pernah menekuni bidang bisnis, bahkan saya tidak pernah Tahu SEO itu apa. Hanya lulusan anak SMK yang ketika sekolah hanya, sekolah – pulang – sekolah – pulang. Hehe. Tapi, saya tidak peduli saya bisa atau tidak, saya bilang “Oke, Pak” saya ingin belajar. Awalnya, saya berpikir “ah, ini paling juga kerja biasa seperti di kantor-kantor”

But, I was wrong. Saya justru seperti belajar, gaji pertama kali Rp 500,000 dan bagi saya saat itu terbilang cukup besar (maklum, baru lulus SMK). Saya cerita kepada Ibu dan beliau mengatakan:

“Ya gapapa, buat pengalaman dan kamu bisa belajar. Kalau tidak nanti tidak diberi gaji, kamu gausah keluar. Anggap aja kamu lagi belajar.”

Dan, yang tertanam dibenak dan mindset hingga sekarang adalah, saya tidak bekerja. Saya belajar dan saya berkarya. Konsep bekerja untuk mencari uang sudah hilang sejak lama, bukan berarti saya tidak butuh uang. Saya butuh, tetapi uang hanyalah alat tukar dan media untuk saya bisa membantu banyak orang nantinya.

Bahkan, saya sempat nyeletuk “Pak, saya gausah diberi gaji dulu gapapa. Soalnya belum ada klien yang deal” dan beliau berkata;

Kamu harus bisa mengapresiasi diri kamu sendiri. Dan, ini profesional, nanti akan terasa ketika kamu di gaji justru kamu akan terpacu untuk lebih giat. Tapi, ini jangan disalah persepsi bahwa kalau tidak di gaji nanti kerjanya asal-asalan. Tetapi, perusahaan ingin tetap profesional dan pasti nanti kamu akan bisa menarget diri kamu sendiri.”

Tapi, saya memang tidak lantas menelan mentah-mentah pernyataan mendapat gaji baru nanti akan semangat, kalau tidak di gaji kerja biasa-biasa saja. Tidak. Ini masa awal karir saya dimulai dan saya disini bisa dibimbing untuk belajar dan berkarya saja sudah sangat bersyukur. Kenapa saya bertahan di perusahaan beliau? Karena kultur perusahaan, learning yang cepat dan banyak sekali improvement yang ber-impactbanyak sekali terhadap kehidupan saya. Saya tidak lagi bisa menemukan environtment, culture, serta value yang memiliki frekuensi sama dengan saya. 

Perjalanan saya masih belum selesai hingga saya membangun arbredesign.co dan tentu saja dengan tantangan yang lebih berat lagi. Shortly, ketika saya tidak cocok dibidang SEO, akhirnya saya dipindah ke bagian product development. Kerjaannya ngapain, Mbak? Bikin produk. Tapi, bikin produknya masih sebatas ide – hipotesa – asumsi – step (belum ke action) dan pakai excel. Saat itu saya tidak tahu harus kemana, mau resign? Sudah hampir lima kali dan mentor tetap menguatkan saya agar bertahan.

“Kamu bertahan saja. Nanti pasti akan ketemu patternnya.” 

Bahkan, ada celetukan di kantor kalau saya tipe orang yang strict, “gila” karena pekerjaannya bukan seperti pekerjaan yang terlihat langsung hasilnya. 

Frustasi? Tentu

Stuck? Ya

Bingung kenapa progress gini-gini aja? Selalu

Tapi, saya tidak punya pilihan. Meski, saya bisa saja benar-benar resign dan mencari pekerjaan baru. Oh iya, saat itu saya memutuskan untuk kuliah dan bekerja. Kalau dikata berat, ya berat. Tapi kalau hanya kuliah saja? Nanti bagaimana dengan skill yang saya punya? 

Kurang lebihnya begini, ada beberapa poin dimana yang saya selalu pegang hingga saat ini. Yang pertama, bahwa saya hanya mendengar opini dari orang-orang yang saya percaya betul, melihat kasus mental illness benar-benar terjadi saat ini dan berakibat fatal. 

Berarti keras kepala & strict ya?

Tidak juga. Kita punya kendali atas pikiran kita. Kita berhak memasukkan hal-hal positif ke dalam Hidup kita. Kalau ada yang pernah baca buku Konmari dari Marie Kondo, tentu kalian mengerti akan pentingnya pilih dan pilah. Hehe. Kalau kita tidak setuju, tidak masalah asalkan menolak opini orang lain tentu dengan cara yang tidak menyakiti mereka dan tidak membuat pendapat kita lebih benar.

Yang kedua, resilience atau daya tahan. Saya tipikal yang “coba aja dulu terus sampai hati kita bilang stop”. Karena, proses keberhasilan itu tidak mudah. Banyak dari kita yang sudah kepentok dikit langsung mundur, tapi, cobalah untuk sedikit menantang diri sendiri agar lebih tangguh. Dalam artian, saya manusia dan saya punya hak untuk mengeluh, tapi keluhan itu bukan lantas membuat saya semakin lemah, but turn it into power to make us stronger. Bukan kita yang tidak bisa, bukan karena kita tidak mampu, kita mungkin hanya perlu sedikit mundur ke belakang agar bisa lari lebih cepat.

Kalau Edison nyerah pada percobaan 999x nya, kita tidak akan pernah tahu terang itu apa, akitivitas kita akan banyak terhambat karena tidak ada lampu. Kalau kamu sudah menyerah, kamu tidak akan mengenal siapa diri kamu.

Thomas Alfa Edison: “Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut kegagalan”

Images: Unsplash