Kreativitas Bukan Hanya Dimiliki Oleh Mereka Yang Jago Desain

Tapi, dimiliki oleh setiap manusia yang diciptakan dengan potensinya masing-masing

Saya sering mendengar, bahwa kreativitas hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki dominasi berpikir otak kanan. Mereka yang memiliki kecenderungan pada seni, gambar, desain, musik, dan hal-hal yang tidak berhubungan dengan logic. Benarkah? Lalu, apakah orang yang cara berpikirnya didominasi oleh otak kirinya lantas tidak kreatif? Saya tersadar setelah menonton film dari Netflix berjudul The Creative Brain dari David Eagleman.

Dari film documenter tersebut, saya merasa semakin yakin bahwa memang setiap manusia dilahirkan memiliki potensi yang besar dan jika dikembangkan akan memiliki pengaruh yang luar biasa. I assume, most of us don’t realise about our potency, and perhaps, we don’t have a strong affirmation to ourselves. The first time I saw the title, I said “This is definitely about art and design, I’d love to watch it.” But, it’s beyond my expectation. “Damn! I love this. Such an incredible docs I’ve ever seen!”

Didalam film dokumenter tersebut, banyak sekali manfaat yang bisa diambil, bahkan di era industri kreatif seperti sekarang. Bahkan, tidak hanya akan membuat kita takjub, namun juga membuat kita mempertanyakan diri kita sendiri. Bagaimana otak dapat membentuk diri kita. Kalian juga akan mengetahui bagaimana cara mengeluarkan potensi diri kita dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Saya takjub dengan salah seorang narasumber yang ada didalam film tersebut, Michelle Khine seorang nanotechnologist.

“I think science is inherently creative. I think you have to be to be able to discover something new that other people have not discovered already.”

Pada bagian yang menurut saya related dengan judul ini adalah, keputusasaan ini menjadikan Khine kreatif. Ia dapat membuat alat ilmiah yang indah dari permainan masa kecilnya bernama Shrinky Drinks. Dan, didalam sains kita juga dituntut untuk menjadi kreatif, tidak hanya mereka yang bisa menggambar, desain, memainkan alat musik, dan lain-lainnya. Dr. Eagleman berkata bahwa otak hewan terdiri dari input dan output yang bersebelahan. Jadi, ketika hewan melihat makanannya, apa yang terjadi? Mereka kemudian akan langsung memakannya tanpa ada proses yang kompleks seperti manusia.

Kurang lebih proses yang ada pada otak hewan seperti ini:

Input: melihat makanan

Ouput: memakan makanan

Tetapi manusia mampu melihat makanan sebagai hal yang lebih sekedari daripada itu. Manusia mampu melihat atau pun mengubah makanan menjadi hal yang artistik. Pernah dari kalian melihat tumpeng dihias saat acara tertentu? Makanan juga dapat menjadi weapons, seperti tradisi di negara Spanyol? Itu adalah hal kecil dimana otak manusia sebenarnya kreatif.


Sebagian orang melihat ini hanya buah alpukat biasa, namun, sebagian lainnya mampu mengubahnya menjadi seni tersendiri atau mengolahnya menjadi hal yang lebih unik


Dr. Eagleman menganggap bahwasanya, ada perluasan wilayah antara input dan output pada otak manusia yang menyebabkan ketika kita melihat sesuatu tidak selamanya menghasilkan respons otomatis. Kita seringkali melakukan proses kreatif, namun banyak dari kita tidak menyadarinya. We think the creative process is owned by who one can design, draw, write a poetry and something that become stereotype in our culture or society. On the other hand, it’s owned by everyone.

Being original is not about generating out of nothing.

Menurut Michael Chabon, salah soerang novelis terkenal yang paling orisinil menganggap bahwa konsep orisinalitas adalah omong kosong. Dia berpikir itu adalah hal gila, dan orisinalitas sejati tidak pernah ada.

“Bayangkan aku akan menulis novel tentang keluarga kelas menengah, berjuang untuk menjaga ketertiban dalam momen historis yang kacau. Dan aku akan segera berhadapan dengan dua puluh lima novel terhebat dalam sejarah. Strategi saat itu seharusnya tidak: bagaimana aku akan membedakan tulisanku dengan karya Tolstoy atau karya Thomas Mann? Pertanyaannya di titik ini adalah, bagaimana aku menggunakan karya mereka?

Aku mengizinkan pengetahuanku tentang para pendahulu dan pekerjaan mereka untuk menginformasi dan membentuk yang kulakukan. Bukan karena aku mencoba menyalinnya, tapi karena aku tahu pengalaman unikku dalam hidup pasti akan campur tangan untuk membantuku menghasilkan karya yang tak seperti pendahulunya.”

Sampai sini, saya menyadari bahwa memang tidak ada orisinalitas di dunia ini. Kita hanya mencoba untuk menyempurnakan, memperbaiki, menginovasi, dan mengimprove (ini bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar ya :D).

Proses kreatif itu dapat terjadi ketika kita peka terhadap sesuatu. Saya beranggapan bahwa orang-orang kreatif adalah mereka yang selalu mempertanyakan, peka terhadap gejala-gejala masalah yang akan timbul dan menemukan solusi lalu berinovasi. Lalu apa yang membuat kita menjadi pribadi yang tidak kreatif? It because we don’t have an affirmation to ourselves. You think you can’t, you think your job is not creative, you think creative is only for someone out there. In addition, you are creative. I said, you are potential, but you didn’t take it out.

However, kreativitas tidak hanya dimiliki oleh mereka yang cara berpikirnya melalui otak kanan. Saya dikelilingi oleh tim dan orang-orang yang dominan berpikir dengan otak kiri, tapi, saya melihat ada sisi kreatif versi mereka yang berbeda dengan cara saya. Keunikan itu yang menjadikan setiap orang kreatif tanpa melihat apa pekerjannya, berasal dari sekolah mana, karena kreativitas itu sudah diberikan Tuhan sejak kita dilahirkan.

Yuk! Mulai sekarang belajar untuk peka terhadap masalah-masalah, membaca buku tentang self-improvement, menonton tayangan yang dapat membantu kalian untuk mengembangkan diri dan tentu mengubah topik pembicaraan yang dapat menghasilkan karya. Saya yakin kalian bisa, saya yakin kalian memiliki keunikan dan tidak masalah jika gagal. Gagal, coba lagi dan belajar lagi.

Last but not least, mentor saya pernah mengatakan:

“Kegagalan dan keberhasilan hanya memiliki 1 makna, yaitu pembelajaran. Bahkan Keberhasilan sekalipun tidak ada maknanya kalau kita tidak berhasil mencari pembelajaran di balik itu.”

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.